Friday 23 January 2026 - 09:31
Saudaraku, Sudahkah Kalian Membaca Munajat Syakbaniyah?

Hawzah/ Hawzah/ Imam Khomeini (ra) —sebagai seorang ‘arif yang sempurna yang telah membebaskan jiwanya dari belenggu dunia—senantiasa mengajak seluruh lapisan masyarakat, termasuk para pejabat, untuk membaca dan merenungkan doa-doa yang diriwayatkan dari para Imam Maksum ‘alaihimussalam dalam berbagai kesempatan dan pertemuannya.

Dilansir dari laporan Berita Hawzah, Imam Khomeini (ra) menjelaskan keutamaan dan kedalaman nilai Munajat Syabaniyah sebagai berikut.

"Munajat Syakban adalah munajat seluruh para Imam—tidak seperti doa-doa lain yang biasanya dikhususkan. Di dalamnya termuat beragam persoalan, samudra makrifat, dan tuntunan lengkap tentang adab bermunajat kepada Allah Swt."

Kita lalai dari makna-makna ini, bagaimana sebenarnya keadaan (dalam munajat itu). Mungkin sebagian orang yang bodoh di antara kita juga meyakini bahwa doa-doa yang diriwayatkan dan segala sesuatu yang berasal dari para Imam ini hanyalah formalitas belaka.

"Mereka bermaksud mengajari kita, namun persoalan utamanya tidak terletak di situ. Yang utama adalah: para Imam itu telah berdiri di depan Allah. Mereka sungguh-sungguh tahu keagungan Dzat yang mereka hadapi. Dengan makrifat kepada Allah Swt., mereka mengerti apa yang wajib dilakukan. Adapun Munajat Syakbaniyah adalah salah satu munajat yang—jika hendak dijelaskan oleh seorang manusia yang jiwanya resah, seorang ‘arif yang resah (bukan ‘arif kata-kata belaka)—amatlah berharga, sekaligus memerlukan penjabaran yang tuntas… (Sahifah Imam Khomeini, jilid 21, halaman 2)"

Sudahkah Anda membaca munajat 'Syakbaniyah'? Bacalah, saudara! Munajat Syabaniyah adalah salah satu munajat yang jika manusia mengejarnya dan memikirkannya, akan membawanya ke suatu tempat (kedudukan spiritual). Para pembaca munajat ini, termasuk seluruh Imam Maksum ‘alaihimussalam berdasarkan riwayat, adalah pribadi yang telah terbebas dari segala ikatan duniawi. Namun, meski telah mencapai kedudukan yang tinggi, mereka tetap bermunajat dengan penuh kerendahan, karena mereka sama sekali tidak melihat diri mereka sendiri (terbebas dari ‘ujub/sombong).

Meski kedudukan mereka begitu agung, mereka tidak pernah merasa “inilah aku, Imam Ja'far As-Shadiq.” Justru sebaliknya, Imam Ja'far As-Shadiq 'alaihissalam bersimpuh dalam munajat bagaikan seorang pendosa yang tenggelam, karena beliau memandang dirinya tak berarti—semuanya kekurangan, dan segala yang baik hanya datang dari Allah Swt semata.

Segala kesempurnaan berasal dari-Nya. Dirinya sendiri tidak memiliki apa-apa, bahkan para nabi pun tidak memiliki apa-apa. Semuanya bukanlah apa-apa, dan hanya Dialah (yang ada). Semua juga mencari-Nya, semua fitrah mencari-Nya, hanya saja karena kita tertutupi oleh sebuah hijab (dosa), kita tidak memahami bahwa kita sedang mencari-Nya. Mereka yang memahaminya, mereka akan menjadi orang-orang yang terlepas (dari dunia) dan pergi menuju makna tersebut.

Kesempurnaan inqitha' (Keterputusan) yang mereka tuju adalah pembebasan diri dari segala sesuatu yang ada—bahkan dari substansi keberadaan diri sendiri. Sebagaimana firman Allah: «إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا» —"Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh"—dan juga dalam ayat: «إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ» —"Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka mereka enggan...".

Kemudian Dia (Allah) berfirman: «Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh» (QS. Al-Ahzab: 72). Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa «ẓalūman jahūlā» adalah sifat tertinggi yang Allah berikan kepada manusia: «ظَلُومًا» (sangat zalim) karena ia telah menghancurkan semua berhala dan segala sesuatu (dengan kezalimannya) dan «جَهُولًا» (sangat bodoh) karena ia tidak memperhatikan sesuatu apa pun, tidak memahami hakikat sesuatu, dan lalai terhadap segalanya. Kita tidak bisa menjadi seperti itu (seperti langit dan bumi yang menolak amanah), kita juga tidak bisa menjadi pemegang amanah, namun kita bisa berada di jalan menuju kesana. (Sahifah Imam Khomeini, jilid 19, hlm. 253)

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha